Kamis, 16 Mei 2019

Cerita Cindrella

Hasil gambar untuk cerita cinderella

Pada zaman dahulu, di sebuah Kerajaan. Tinggalah seorang anak perempuan yang sangat cantik dan baik hatinya. Ia tinggal bersama kedua kakak dan ibu tirinya. Ayah dan ibunya sudah meninggal.
Ia dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah setiap hari. Setiap hari ia selalu di siksa. Tetapi ia tetap menyanyangi ibu dan kakak tirinya, meskipun mereka sudah sangat jahat kepadanya. Kakak-kakaknya yang sangat jahat memanggilnya ‘’Cinderella’’, yang artinya ‘’ Gadis yang sangat kotor’’ menurut mereka itu adalah panggilan yang cocok untuk Cinderella.
Suatu hari ada sebuah undangan pesta dansa dari istana untuk semua gadis. Gadis yang bruntung dapat menikah dengan Pangeran yang sangat tampan. Ibu dan kedua kakak tirinya sangat senang mendengar kabar tersebut.
‘’Aku sangat ingin segera ke Istana, dan berdansa dengan Pangeran’’ ujar kakak sulungnya.
‘’ Hai jangan mimpi Kak, Aku lebih cantik darimu, jika nanti aku jadi Putri Raja, ibu pasti akan sangat bangga dan bahagia.’’ Jawab kakak keduanya dengan wajah berseri.
‘’ Siapapun di antara kalian yang akan menikah dengan Pangeran, itu akan membuat ibu sangat bahagia, keluarga kita akan menjadi terpandang.’’ Ujar ibu tirinya menengahi kedua anaknya.
Hari yang di nantipun telah tiba. Mereka memakai gaun yang paling indah dan sangat mahal. Kedua kakak tirinya mulai berdandan dengan sangat cantik. Cinderella sangat ingin ikut dan bertanya kepada ibunya.
‘’ Bolehkah aku ikut ke pesta dansa bersama bu?’’ tanyanya dengan suara memelas.
‘’ Haha, dasar Cinderella bodoh ! kau tinggal di rumah selama kami pergi, bersihkan semua ruangan, cuci piring dan baju, dan kamu sangat jelek. Pengeran tidak akan melihatmu meskipun kau datang kesana.’’ Jawab ibu tirinya menghina.
‘’ Kau bahkan sangat bau Cinderella. Jika kamu ikut, kamu akan membuat kami malu!’’ tambah Kakak teruanya.
‘’ Tapi aku sangat ingin ikut kak’’ Cinderella mencoba mempertahankan keinginannya.
Walaupun Cinderella sudah memohon, Ibu dan kakaknya tidak mengijinkan dia datang ke pesta sanga pangeran tampan.
Cerita Dongeng Cinderella dalam Bahasa Indonesia
Cerita Dongeng Cinderella dalam Bahasa Indonesia
Ibu Cinderella dan Kakak-kakaknya pergi dengan perhiasan yang mewah. Sedangkan Cinderella masuk kee dalam kamar, ia sangat sedih dan berkata. ‘’ Aku sangat ingin pergi. Seandainya aku bisa pergi ke pesta dansa dan dapat bertemu dengan Pangeran. Tetapi aku juga tidak dapat pergi dengan pakaian kotor dan bau seperti ini, tapi aku ingin sekali pergi.’’ Ujarnya dalam hati. Cinderella menangis di dalam kamar.
Tiba-tiba ada cahaya yang sangat terang dan suara gemuruh di sampingnya. Muncullah Ibu Peri yang sangat baik hati. ‘’ Cinderella, berhentilah kamu menangis.’’ Ia sangat terkejut di sebelahnya ada seorang ibu peri sambil tersenyum ramah. ‘’ Aku ibu peri yang akan menolongmu pergi ke pesta dansa itu. Tapi sebelum itu kamu harus mencari enam Tikus, enam Kadal, dan Labu Emas. Kamu dapat mendapatkan itu di kebun belakang, dan kemudian bawakan kesini.’’
Cinderella segera mencari Labu Emas, enam Tikus dan enam Kadal. Cinderella segera membawanya. Ibu peri mengahampiri mereka satu persatu dan dengan tongkatnya Labu Emas berubah menjadi Pedati Emas yang sangat indah. ke enam Tikus berubah menjadi enam Kuda berwarna Keemasan. Dan Kadal menjadi pengawal dengan berbadan kekar. Cinderella sangat terkejut. Lalu, ibu peri menghampirinya dan dengan tongkatnya pakaian Cinderella yang sangat jelek dan kotor berubah menjadi Gaun Emas yang sangat berkilau dengan perhiasan yang sangat indah dan berkilau.
Sementara kakinya, ada sepasang sepatu kaca yang sangat cantik. Cinderella menari-nari dengan sangat gembira, sebelum ia pergi, ibu peri berpesan.
‘’ Cinderella, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam. Karena itu, tepat pukul dua belas malam kamu harus meninggalkan pesta dansa.
‘’ Baiklah, ibu peri. Aku akan ingat pesan ini dan meninggalkan pesta tepat pukul 12 malam. Terima kasih ibu peri.’’ Jawab Cinderella dan ia langsung menaiki kendaraannya.
Ketika Cinderella tiba di pesta dia tampak sangat cantik. Ia langsung masuk kedalam aula istana. Begitu ia masuk kedalam. Semua mata tertuju padanya. Mereka sangat terkejut dan sangat kagum dengan kecantikan Cinderella. Bahkan ibu dan kedua kakak tirinya tidak mengenali siapa Putri cantik itu.
‘’ Putri itu sangat cantik sekali.’’
‘’ Putri dari Negara mana secantik itu.’’ Tanya mereka.
Pangeran tampan pergi mengahampiri Cinderella. ‘’ Putri, kau sangat cantik sekali. Maukah kamu berdansa denganku?’’ ujar Pengeran.
‘’ Iya, aku mau Pangeran.’’ Jawab Cinderella sambil tersenyum.
Mereka berdua berdansa dengan rasa bahagia. pangeran berkata, ‘’ Kamu adalah wanita yang selama ini saya cari.’’ Cinderella sangat bahagia dan lupa waktu. Ternyata, jam mulai mendekati pukul dua belas.
‘’ Maafkan aku Pangeran, aku harus segera pulang.’’ Cinderella menarik tangannya dari genggaman Pangeran dan langsung berlari ke luar istana.
Tiba-tiba di tengah perjalannya keluar istana. Sepatunya terlepas sebelah. Cinderella terus berlari. Pangeran berlari mengejarnya dan menemukan sepatu kaca milik Cinderella di tengah anak tangga. Pangeran langsung mengambil sepatu itu.
‘’ Aku akan mencari pemilik sepatu ini.’’ Katanya dalam hati.
Cerita Dongeng Cinderella Bahasa Indonesia
Cerita Dongeng Cinderella Bahasa Indonesia
Cinderella kembali menjadi gadis kotor dan berdebu. Namun, ia sangat bahagia karena dapat pergi berpesta dan berdansa dengan Pangeran.
Suatu pagi, Pangeran dan para Prajuritnya pergi dari rumah ke rumah untuk mencari kaki yang cocok dengan sepatu kaca tersebut. Ia mencari sampai kepelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca. Namun, tidak ada dari mereka yang cocok.
Akhirnya tibalah di rumah Cinderella, kedua kakaknya sangat senang dan tidak sabar untuk mencoba sepatu itu.
‘’ Permisi. Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini.’’ Kata para Pengawal.
Kedua kakak tirinya mencoba sepatu kaca itu. Kaki mereka berdua terlalu besar tapi terus memaksakannya masuk. Pengawal melihat Cinderella. ‘’ Hei kamu. Kemari. Cobalah sepatu ini!’’
Cinderella menjulurkan kakinya masuk ke dalam sepatu itu. Ternyata, sepatu kaca tersebut sangat cocok.
‘’ Ternyata, kamulah putri yang di cari Pangeran.’’ Seru salah satu pengawal gembira.
‘’ Cinderella, selamat..’’ Cinderella langsung menoleh ke belakang.
Disana telah berdiri Ibu Peri yang baik hati. ‘’ Hiduplah dengan bahagia dengan Pangeran.’’ Katanya. Ibu peri langsung menghampiri dan menggerekkan tongkatnya dan membaca mantra. ‘’ Sim Salaaaabim..’’
Cinderella berubah menjadi Putri dengan memakai gaun yang sangat indah. Pengawal langsung membawa Cinderella ke Istana. Sesampainya ia di istana. Pangeran menyambutnya dengan gembira dan tersenyum. Cinderella dan Pangeran akhirnya menikah dan hidup sangat bahagia selama-lamanya

Cerita si Kancil dan Harimau

Hasil gambar untuk cerita si kancil
Pada suatu hari, terjadilah kelaparan di sebuah pulau yang penduduknya kebanyakan di huni oleh para Harimau. Mereka sangat kelaparan, karena semakin hari tidak ada hewan yang dapat mereka mangsa. Akhirnya, Raja Harimau mengutus Panglima dan para Prajuritnya untuk pergi ke pulau kecil di sebrang dan kembali dengan membawa banyak makanan.
Perjalanan ke pulau kecil di sebrang cukup jauh. Akhirnya, mereka pun sampai di tempat tujuan. Di sana mereka sangat takjub dengan melihat keindahan alam pulang kecil tersebut. Namun, setibanya mereka disana. Mereka hanya melihat seekor Kancil kecil di tepi pantai. Kancil pun segera berlari. Namun, ia terlambat. Ia sudah di kepung oleh para Harimau.
‘’ Hei Kancil! Di mana Rajamu? Kami datang untuk meminta makanan. Jika kalian menolak, kami akan menyerang pulau kecil ini. Dan lihatlah, kami membawa potongan kumis raja kami.’’ Kata prajurit Harimau dan menunjukkan kumis rajanya.
‘’ Kumis ini besar sekali. Pasti raja Harimau sangat besar dan kuat. Aku akan membawa kumis raja Harimau dan menunjukkannya kepada raja kami.’’ Kata Kancil.
Sebenarnya, Kancil sangat kebingungan karena di pulau kecil tersebut tidak terdapat seorang Raja. Pada saat itu, Kancil melihat sahabatnya seekor Landak yang sangat besar. Ia pun langsung menemukan sebuah ide.
‘’ Hei sahabatku. Kemarilah, aku sangat membutuhkan bantuanmu!’’ kata Kancil.
‘’ Hah? Bantuanku? Buat apa Cil?’’ Tanya Landak.
‘’ Untuk keselamatan semua hewan di pulau ini.’’ Jawab Kancil.
Akhirnya, Landak pun mencabut durinya yang paling besar, rajam dan panjang. Setelah mendapatkan duri tersebut. Kancil langsung berlari membawa duri Landak dan menyerahkan kepada para Harimau. Kancil pun mencari di mana para Harimau itu. Akhirnya, Kancil berhasil menemukan mereka di tepi pantai. Mereka tertidur sangat pulas. Kancil pun membangunkan panglima Harimau.
‘’ Tuan, raja kami siap untuk berperang. Sebagai buktinya. Raja kami pun mengirimkan kumisnya.’’ Kata Kancil tegas. Ia pun langsung menyerahkan kumis Landak kepada para Harimau.
‘’ Ini kumis raja mu?’’ Tanya panglima Harimau.
‘’ Iya, itu adalah kumis raja kami yang paling kecil. Raja kami pun menerima tantangan dari raja kalian.’’ Kata Kancil.
Para Harimau pun sangat terkejut melihat kumis raja pulau kecil yang besar dan tajam.
‘’ Kumis raja Kancil sangat besar. Sangat besar dari kumis raja kita. Kita pasti akan sulit untuk melawannya.’’ Bisik panglima Harimau kepada para prajuritnya.
‘’ Lalu bagaimana?” Tanya salah satu Harimau.
‘’ Sebaiknya kita segera pergi dari pulau ini.’’ Jawab panglima Harimau.
Akhirnya, para Harimau pergi meninggalkan pulau kecil tersebut. mereka pun melanjutkan perjalanan ke pulau lainnya untuk mencari makanan.
Sejak saat itu, tidak ada satu Harimau pun yang berani datang ke pulau kecil. Semua itu berkat kecerdikan Kancil dan kecerdikkannya.

Cerita Si Malin Kundang

Gambar terkait

Pada zaman dahulu di sebuah perkampungan nelayan Pantai Air Manis di daerah Padang, Sumatera Barat hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Malin Kundang. Mande Rubayah amat menyayangi dan memanjakan Malin Kundang. Malin adalah seorang anak yang rajin dan penurut.
Mande Rubayah sudah tua, ia hanya mampu bekerja sebagai penjual kue untuk mencupi kebutuhan ia dan anak tunggalnya. Suatu hari, Malin jatuh-sakit. Sakit yang amat keras, nyawanya hampir melayang namun akhirnya ia dapat diseiamatkan-berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia semakin disayang. Mereka adalah ibu dan anak yang saling menyayangi. Kini, Malin sudah dewasa ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau ke kota, karena saat itu sedang ada kapal besar merapat di Pantai Air Manis.
“Jangan Malin, ibu takut terjadi sesuatu denganmu di tanah rantau sana. Menetaplah saja di sini, temani ibu,” ucap ibunya sedih setelah mendengar keinginan Malin yang ingin merantau.
“Ibu tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa denganku,” kata Malin sambil menggenggam tangan ibunya. “Ini kesempatan Bu, kerena belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Aku ingin mengubah nasib kita Bu, izinkanlah” pinta Malin memohon.
“Baiklah, ibu izinkan. Cepatlah kembali, ibu akan selalu menunggumu Nak,” kata ibunya sambil menangis. Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi. Kemudian Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus, “Untuk bekalmu di perjalanan,” katanya sambil menyerahkannya pada Malin. Setelah itu berangkatiah Malin Kundang ke tanah rantau meninggalkan ibunya sendirian.
Hari-hari terus berlalu, hari yang terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut, “Sudah sampai manakah kamu berlayar Nak?” tanyanya dalam hati sambil terus memandang laut. la selalu mendo’akan anaknya agar selalu selamat dan cepat kembali.
Beberapa waktu kemudian jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. “Apakah kalian melihat anakku, Malin? Apakah dia baik-baik saja? Kapan ia pulang?” tanyanya. Namun setiap ia bertanya pada awak kapal atau nahkoda tidak pernah mendapatkan jawaban. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.
Bertahun-tahun Mande Rubayah terus bertanya namun tak pernah ada jawaban hingga tubuhnya semakin tua, kini ia jalannya mulai terbungkuk-bungkuk. Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda dulu membawa Malin, nahkoda itu memberi kabar bahagia pada Mande Rubayah.
“Mande, tahukah kau, anakmu kini telah menikah dengan gadis cantik, putri seorang bangsawan yang sangat kaya raya,” ucapnya saat itu.
“Malin cepatlah pulang kemari Nak, ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang…,” rintihnya pilu setiap malam. Ia yakin anaknya pasti datang. Benar saja tak berapa lama kemudian di suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang megah nan indah berlayar menuju pantai.
Orang kampung berkumpul, mereka mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.Mande Rubayah amat gembira mendengar hal itu, ia selalu berdoa agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya, sinar keceriaan mulai mengampirinya kembali. Namun hingga berbulan-bulan semenjak ia menerima kabar Malin dari nahkoda itu, Malin tak kunjung kembali untuk menengoknya.
Ketika kapal itu mulai merapat, terlihat sepasang anak muda berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkiiauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum karena bahagia disambut dengan meriah.
Mande Rubayah juga ikut berdesakan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras saat melihat lelaki muda yang berada di kapal itu, ia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anaknya, Malin Kundang. Belum sempat para sesepuh kampung menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. la langsung memeluknya erat, ia takut kehilangan anaknya lagi.
“Malin, anakku. Kau benar anakku kan?” katanya menahan isak tangis karena gembira, “Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?”
Malin terkejut karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang—camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Sebelum dia sempat berpikir berbicara, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Wanita jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku!” ucapnya sinis, “Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat denganku?!”
Mendengar kata-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung mendorong ibunya hingga terguling ke pasir, “Wanita gila! Aku bukan anakmu!” ucapnya kasar.
Mande Rubayah tidak percaya akan perilaku anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau jadi seperti ini Nak?!” Malin Kundang tidak memperdulikan perkataan ibunya. Dia tidak akan mengakui ibunya. la malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, wanita gila! lbuku tidak seperti engkau! Melarat dan kotor!” Wanita tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit hati.
Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Ia tak menyangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian.
Hatinya perih dan sakit, lalu tangannya ditengadahkannya ke langit. Ia kemudian berdoa dengan hatinya yang pilu, “Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafhan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, Ya Tuhan!” ucapnya pilu sambil menangis. Tak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya.
Tiba-tiba datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Laiu sambaran petir yang menggelegar. Saat itu juga kapal hancur berkeping- keping. Kemudian terbawa ombak hingga ke pantai.
Esoknya saat matahari pagi muncul di ufuk timur, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang! Tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia.
Itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu karena telah durhaka. Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.
Sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia, terkadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri, “Ampun, Bu…! Ampuun!” konon itulah suara si Malin Kundang, anak yang durhaka pada ibunya.

Cerita Cindrella

Pada zaman dahulu, di sebuah Kerajaan. Tinggalah seorang anak perempuan yang sangat cantik dan baik hatinya. Ia tinggal bersama kedua k...